Organisasi sebesar RSUD itu memang sudah selaiaknya menggunakan IS/IT untuk menunjang proses manajemen rumah sakit. Apalagi RS di Surabaya tidak hanya satu RSUD itu saja. Bahkan di depan RSUD telah berdiri RS Spesialis Permata Husada yang fisik bangunannya sudah sangat mirip dengan hotel ***** (ngga usah udik dech; baca “bintang lima”). Tapi tenang aja, RSUD-ku sudah punya Grha Amerta. Ngga ada pasien ’susah’ di sana. Ngga ada parkiran sepeda motor, kecuali cuman parkiran mobil-mobil ‘wah’.
Tapi pada kenyataannya yang sakit kan ngga cuman orang kaya dengan serangan jantungnya atau kanker otak stadium akhirnya. Orang miskin juga bisa sakit (malah lebih sering dan banyak). Otomatis, kompetitor RSUD tidak hanya rumah sakit-rumah sakit mewah di Surabaya, tapi juga rumah sakit-rumah sakit ‘kecil-kecilan’ seperti RSU Haji dan RSU Islam (dan masih banyak lagi yang lainnya…kecuali RS Menur) . Sedangkan yang namanya RSUD harus melayani juga masyarakat (terutama) ekonomi menengah ke bawah.
Pada saat ini, kebanyakan memang pasien RSUD lebih banyak didominasi orang-orang ’susah’. Terbukti dari banyaknya penggunaan kartu askes dan orang-orang yang rela tidur/tiduran di selasar RS. (Hari gene orang kaya mo tidur/tiduran di selasar? Udah gila kalee..!) Jika bukan karena terbiasa dengan bau obat-obatan dan kelas ekonomi kapal juga berdesak-desakan dengan penumpang lain di dalam angkot, mungkin aku udah muntah-muntah ketika ingin melewati ruang bedah. Banyak orang di sana! Bau keringaaat…!!!
Sebagai RS terbesar di Indonesia Timur (katanya sich..), jumlah pasiennya sudah tidak terhitung puluhan tapi ratusan bahkan mungkin ribuan (untuk keseluruhan RSUD). Kalau tidak dimanajemen dengan baik, ngga kebayang banyaknya antrian orang sakit yang ingin diobati. Kalau semakin banyak orang sakit yang tidak terlayani maka kinerja RS akan menurun dan akan semakin banyak orang yang enggan berobat ke sana. Kalau sudah begitu, ‘blablabla’ berikutnya sudah mulai bisa dipastikan dari sekarang.
Tapi ternyata, pada kenyataannya pembangunan IS/IT di RS tidaklah semudah teoritiknya. Seperti kasus yang aku ketahui misalnya, seorang pasien datang dengan marah-marah karena si sakit yang diantarkannya lamban di layani karena si operator lama menginputkan/mencari data. How so cruel it is…! But it’s really happened. Selain itu, kepiawaian si operator dalam menggunakan aplikasi juga menentukan baik atau tidaknya pelayanan RSUD. Tapi lagi-lagi pada kenyataannya, si operator adalah orang-orang yang pernah hidup nyaman di jaman ‘Jurasic Park’. Impact, mereka malas memasukkan data ke dalam komputer karena keterbatasan pengertian penggunaan komputer itu sendiri. Dan juga karena sudah terbiasa dengan kertas. Padahal pihak ITI sudah melakukan develop terhadap human resource yang seperti ini.
Impact lanjutan yang dirasakan adalah oleh IS/IT itu sendiri. Di satu sisi mereka ‘ditekan’ oleh keadaan pasien yang jelas wajib di nomor satukan. Dan sisi lain, pihak manajemen RSUD juga menginginkan data yang akurat dalam mendukung proses pengambilan keputusan mereka. How can it be?
Ditulis oleh hadiy
Ditulis oleh hadiy
Ditulis oleh hadiy