Malam minggu kemaren aku tiba kembali di kota kelahiranku. Pada waktu aku berlabuh, matahari sudah bersembunyi di balik pepohonan. Dan masih bukan merupakan hal yang aneh apabila bumi habaring hurung Sampit seperti gonjang-ganjing ketika aku mulai menapakkan kakiku di atasnya.
Baru sekitar 12 jam kemudian matahari ber-’cilukbaaa..’ denganku. Dan aku pun ketemu juga dengan Mandra dan Ucok. Di perjalanan datang, aku melihat berbagai keanehan. Dua traffic light di dua perempatan ramai; mati. Banyak sekali warung-warung makan remang-remang di pinggiran jalan, pas banget buat pacaran karena hanya diterangi lilin-lilin kecil; kalo sampe ada yang make petromax udah ‘mewah’ tuch..
Di perjalanan pulang aku baru ngerti, “oh.. mati lampu”. Tadi malam, giliran komplek rumahku yang mati lampu. Oh.. tentu tidak! Pemadaman bergilir..! Pikirku kemudian; kapan Sampit bisa maju klo kek gini terus? PLN sebagai satu-satunya perusahaan listrik negara koq bisa-bisanya merugi? Benar-benar aneh dah..
Usut punya usut ternyata.. (informasi ini aku dapat dari salah seorang pejabat pemerintahan daerah) kinerja BUMN khususnya PLN memang seperti itu “jeleknya” menurut sudut pandang kebanyakan; termasuk aku. Berbeda dengan perusahaan swasta, apabila ada sisa belanja maka itu dimasukkan sebagai keuntungan. Tapi tidak dengan PLN ini; apabila ada sisa belanja maka itu bisa dikatakan kerugian. Jadi kalo misal (di BUMN) atasan ngasih 100 juta maka bawahan harus menghabiskannya bahkan kalo bisa sampai minus belanjanya, alias merugi. Kalo ada sisa (misal 10 juta) dan dikembalikan ke atasan, maka bawahan tersebut bisa digolongkan orang bodoh.
Aneh, ‘kan? Tapi yaaa emang kayak gitu itu kenyataannya. Teori ekonomi tidakberlaku di instansi pemerintahan. Tujuannya agar anggaran belanja daerah bisa naik di tahun berikutnya. Karena kata beliau pemerintah tidak mau tahu harga barang/jasa naik atau mau naik. Ngga tahu juga dah dari mana asalnya uang untuk menaikkan ABD. Dan ngga tahu juga buat apa aja sisanya nanti.
Hhhhh….
Ditulis oleh hadiy