Setelah puas dengan teman-teman lamaku, it’s time to visit my parent’s friend. Dua harian setelah kedatangank, aku emang udah ketemu ma tante Titin. Tapi ini yang lain lagi. Dan setelah menikmati belaian angin sungai Mentawa, ketemu juga aku dengan keluarga abah Ipan. Ku kira mereka sudah tidak mengenaliku lagi. Maklum, kali terakhir kami bertemu kira-kira 9-10 tahun yang lalu. Huhuhuhu…perpisahan itu terjadi pada saat aku harus pindah ke Palangkaraya untuk skul, while ortuku masih di Sampit.
Maunya sich bikin surprise pengen liat wajah berusaha mengenali dari mereka. Eh.. malah aku yang kaget. Gimana ngga kaget (coba?), lah masa’ aku dikira sempat pacaran sama anak haji Anang, yang juga temen ortuku. Mungkin kalo sama anak tante Titin, si Noni, benar. “Belamak inya Di ai wayah ini. Bisa kada pinandu ikam..”. Astaga… (hahahahha) ada-ada ja acil to.
Sedangkan usaha mereka masih seperti dulu. Hampir ngga ada yang berubah. Cuma ketambahan jualan makanan oleh acil. Tapi kata mereka sich meski pasar terlihat lebih modern secara fisik tapi daya beli masyarakat jadi turu dan malah kebanyakan yang jualan daripada yang beli.
Tapi whatever lah. Yang penting kami senang-senang dulu melupakan sejenak segala beban. Hingga akhirnya aku harus bilang “Makasih. Sampai ketemu lagi…”.