Matahari belum mencapai titik didihnya ketika suasana di kos-kosan om-ku mulai membangunkan unta-unta arab. Andaikata mereka masing-masing memiliki (minimal) AK-45, mungkin sudah banyak anggota PMI yang dengan senang hati mengambil hasil ‘donor darah’. Tapi, ah… berlebihan… (Diyeeeeeeng….!!!) Ada yang marah-marah, ngdumel, mengeluh, ngjek (mungkin). Ada juga yang merasa terusik sampai mengesah sambil menggosok mata setelah bangun tidur, “Air habis….”.
Huaaaa…. bikin tape baja. Masa’ gara-gara aer harus saling bunuh, padahal aer, ‘kan, membawa kehidupan; bukan kematian?
It was to simple problem kalau saja mereka lebih bijaksana menggunakan logika daripada maen perasaan. Ngga cuman untuk masalah ini aja. Tapi semua yang ada di dunia ini berdasarkan logika dan ngga cuman perasaan. “Perasaan” hanyalah (kalau tidak mau disebut “efek samping”, ya, bolehlah…) sentuhan yang intensitasnya jauh lebih sedikit dari penggunaan logika. Bahkan tanpa menggunakan perasaan pun, seorang manusia masih bisa terlahir ke dunia. (Tapi hasilnya, ya kek gitu itu). Pada kasus perkosaan misalnya, ngga ada perasaan apa-apa di sana (kecuali nikmat kaleee… hahahaha) kecuali nafsu. Sebaliknya, dengan menggunakan perasaan yang melebihi logika akan membuat orang meregang nyawa tanpa tujuan yang jelas sebelum malaikat maut sempat melaksanakan tugasnya.
Bahkan “cinta” yang murni perasaan pun meminta pembuktian (logika) dari yang bersangkutan. Emangnya kamu mau kalo pasangan kamu cuman bisa bilang cinta tanpa ngasih perhatian ato apa-apa, malah ninggalin kamu? (Cinta? Makan tu cinta!). Lebih dalam lagi dari itu, keimanan kepada Sang Khalik juga meminta pembuktian dan ngga cukup cuma perasaan saja. Makanya banyak manusia yang diuji keimanannya, padahal Dia Yang Maha Mengetahui loh….
Apalagi kita hanya manusia biasa yang ngga tahu apa-apa.. Kalo maennya cuman perasaan aja… bisa ancur dunia ini. Sebaliknya, tanpa perasaan pun segala sesuatu di dunia ini masih bisa berjalan dengan baik (sebagian; tinggal mau atau ngga aja untuk ngjalaninya) selama itu tidak berhubungan langsung dengan-Nya (misal keimanan). Perhatikan, betapa tidak sedikit ilmuwan yang ‘liburan’-nya sudah tidak lagi ke luar negeri, malah ke luar angkasa (bahkan ingin ke planet atau galaksi lain) tapi masih tidak mau mengakui keberadaan Sang Maha Pencipta. Yang pasti itu disebabkan karena belum adanya hidayah (perasaan) di hati mereka.
Yeee… kirain da apa? Ternyata cuman gitu! Tapi kenapa judulnya “Tanpa ‘V’ dan hanya ‘P’”?
Nah tu dia. Karena yang paling banyak menggunakan perasaan adalah manusia-manusia bertipe ‘V’ sedangkan logika lebih banyak digunakan oleh manusia-manusia bertipe ‘P’. Kaduanya saling melengkapi dan ngga bisa hanya salah satunya saja atau perasaan sampai mengalahkan/melebihi logika. Kalo sampe melebihi… ya, akibatnya kek seperti pagi tadi itu, misalnya.
Tapi kebanyakan kita lebih memilih “Kalo masih ada otot, ngapain make otak; toh otot juga dikendalikan oleh otak??”
Ditulis oleh hadiy