Teknik penulisan ilmiah

September 4, 2007

Menulis bisa dikatakan pekerjaan yang gampang2 susah. Apalagi kalau tulisan bersifat ilmiah. Kalo nulis blog mah ato diary..itu ecek2. Mo nulis apa aja pake gaya yang kek gimana aja, no problem. Cuman kalo udah tulisan ilmiah, ada kaidah2 yang harus diikuti. Yang pasti, bahasa yang digunakan harus sesuai dengan ejaan yang berlaku. Jadi ngga bisa sembarangan kek nulis blog dan diary tadi..

Misalnya berkaitan dengan judul. Judul harus asli, dan kalaupun sudah ada yang mendahului alias hampir serupa (misal) “Perencanaan strategis SI/TI di perusahaan jasa” dan “Perencanaan strategis SI/TI di perusahaan manufaktur” -hampir sama toh?- nah, itu harus ada perbedaan yang jelas diantara keduanya.

Selanjutnya terkait dengan isi tulisan itu sendiri yang kemudian kita kenal adanya “latar belakang” dan “permasalahan” yang diangkat dan “metodologi” pengerjaannya serta nilai tambah yang dihasilkan bagi perkembangan iptek (ngga melulu iptek sich…). Kalo misal tulisan itu merupakan kelanjutan dari tulisan orang lain, maka prosentase pengerjaan oleh orang lain itu harus jelas sampe di mana. Kalo mo bela2in cape’.. ya silahkan mengulangi lagi dari depan. :p- Yang pasti, harus sesuai dengan kemampuan loh. Jangan makse..

Kalo udah, keseluruhan tulisan itu harus bernilai cukup; ngga kurang, ngga lebih. Masalahnya, “kecukupan” itu ditentukan oleh pembacanya. Sedangkan kita ngga akan pernah tahu model ya’ apa pembaca itu. Yang pasti akan ada dua : yang udah expert dan yang masih ‘nerawang’. Kalo yang udah expert disuguhi hal2 detail, bisa ilang nafsu dia. Tapi kalo penjelasan detil tidak ada, pas yang baca adalah orang awam, bisa bingung dia; klo ngga gantung diri kemudian. Jadi repot, ‘kan? Nah biar ngga repot simpan aja penjelasan detil tadi sebagai lampiran. Dan simpanlah di bagian belakang yaa… Jadi ngga bakal mengganggu libido si expert buat nyidang. Dan yang perlu diperhatikan juga adalah : tepat, fokus, tidak remang nalar, makna tunggal atau tidak mendua (silahkan meniga dan seterusnya kalo mo mempersulit diri), singkat (bukan berarti kata2nya disingkat2), jelas dan efektif.

Lalu pada proses pengerjaannya harus bersifat jujur (academic honesty). Ngga usah pabrikasi data (ilmiah koq merekayasa?), jangan juga lalu jadi plagiat (klo mo ‘nyrempet’ silahkan bubuhkan daftar pustaka, menggunakan kutipan, studi literatur atau menarik simpulan), jangan pula curang kek copy-paste. Karena kejujuran akademik ini nantinya akan terkait dengan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).

Trus ada juga yang namanya abstrak. Nah, abstrak ini menggambarkan tulisan secara umum sesuai struktur pengerjaan tulisan. Bedanya dengan simpulan ya… udah jelas.. kalo simpulan ngga sesuai struktur malah lebih baik dan secara sangat umum. Abstrak ini biasanya ditulis paling akhir dan disuguhkan paling awal pada setiap hasil tulisan. Jangan lupa buat nyantumin kata kunci ato keyword-nya ya…



Pre-Supply Chain Management

September 2, 2007

Dalam konteks ini, supply chain (rantai pasok) adalah rangkaian perusahaan yang saling bekerja sama mendistribusikan produk atau jasa dari produsen hingga sampai ke tangan konsumen akhir. Pendistribusian produk atau jasa tersebut melibatkan material, dana dan informasi. Karena itu, rantai pasok perlu untuk dimanajemen dengan baik untuk memaksimalkan profitabilitas tidak hanya pada perusahaan tertentu saja tapi keseluruhan perusahaan yang ada dalam lingkup rantai pasok, tidak terkecuali konsumen akhir.

Di dalam SCM (Supply Chain Management) terdapat 2 aktifitas : physical dan market mediation. Aktivitas fisik meliputi pengadaan sumber (sourcing), produksi, distribusi, penggudangan (warehousing) dan pengendalian penyimpanan (inventory control). Sedangkan pada market mediation meliputi penelitian pasar (market research), desain produk (product design) dan pelayanan purna jual (after sales services). Tapi sayangnya (kata ibu dosen yang mengajar), market mediation ini sering dilupakan oleh produsen.
Kedua aktivitas tersebut berdasar pada dua fungsi dasar SCM yaitu :

  1. (yang berhubungan dengan biaya yang dikeluarkan untuk aktivitas fisik) proses mengubah materi dasar menjadi produk jadi hingga sampai ke tangan konsumen.
  2. (yang berhubungan dengan biaya yang dikeluarkan untuk mengetahui keadaan pasar) memastikan bahwa produk sesuai dengan keinginan konsumen.

Impact, kedua aktivitas tersebut mengakibatkan adanya tantangan dalam pengelolaan SCM yaitu kompleksitas struktur rantai pasok dan faktor ketidakpastian. Implikasinya, perusahaan perlu untuk mengambil keputusan yang sesuai tingkatan : strategis (mis. kerjasama), taktis (mis. pelayanan purna jual) dan operasional (mis. aktivitas harian). Tapi, hari gineee gitu loh…! Peran internet sudah menjadi semacam ‘penyakit’ yang diharapkan untuk mengobati ‘penyakit’ lain yang lebih berbayaha, tradisionalitas. Maka sebutlah e-procurement untuk mendukung proses pengadaan dan e-fulfillment dimana produsen tertentu dapat ‘bersentuhan langsung’ dengan konsumen akhir. Dengan begini pihak2 pada rantai pasok dapat berbagi informasi dan melakukan transaksi dengan lebih cepat, murah dan akurat.


ERP di koperasi

Agustus 1, 2007

Sepertinya menarik juga meneliti penerapan ERP di koperasi (spec; koperasi mahasiswa ITS). Itung2 ‘refreshing’ dari kegiatan RSUD lah. Sampai di kopma, eh ketemu Nugie. Sama seperti Dedi dulu, “Kemana aja kamu koq ngga pernah keliatan?”. Aku sudah menepi dari dunia ‘persilatan’ and i found my real path.

Misi kali ini adalah mendeskripsikan aturan bisnis yang diterakan di kopma. Masih berupa gambaran umum sich tentang sistem secara keseluruhan dan masih belum menyentuh detilnya.

Masalah distribusi barang masih dengan sistem konsinyasi (titip) dan beli dari agen atau distributor dengan ketentuan tertentu seperti stok dan harga barang (misal harga barang mau naik). Unit bisnis yang ada juga masih belum berubah; swalayan, fast food, wartel dan asrama. Tidak hanya itu, bahkan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap jalannya unit bisnis tersebut masih sama. Nama orangnya saja yang berganti. Begitu juga dengan sistem administrasi seperti iuran wajib dan iuran sukarela anggota beserta SHU-nya.

Tidak banyak yang berbeda memang antara sistem distribusi barang antara kopma yang dulu -ketika aku masih aktif sebagai anggota; sekarang udah ngga lagi- dengan sistem yang baru. Masih manual -itu pasti- dan bahkan boleh dikatakan hampir tidak ada perubahan, kecuali satu.

Jas almameter yang dulunya ditenderkan, di kepengurusan yang baru ini sudah menggalang kerja sama. Ngga tahu ya hasilnya (produk jadi; almameter) nanti kayak gimana. Karena beberapa tahun yang lalu muncul keluhan seperti kainnya agak panas, dsb. Tapi dari tahun ke tahun ada peningkatan kualitas yang juga dibarengi oleh kenaikan harga.

Distribusi barang, unit bisnis yang ada dan sistem administrasi (baca: bagi hasil) di kopma, mungkin ngga ya ERP diterapkan di sana? Yang aku tahu -nie dari dosen ERP langsung loh ya yang sempat ngajar aku-, dimanapun ERP bisa diterapkan. Hanya saja semua bergantung pada aplikasinya apakah besar atau kecil dan sesuai atau tidak dengan proses dan aturan bisnis yang telah ada. Alasan basi banget yaa.. .

Sementara itu untuk penerapan aplikasinya sendiri, masih butuh perencanaan IS/IT lagi yang mana hal itu sudah di luar pekerjaanku pada penelitian kali ini. Tapi memang yang namanya investasi IS/IT selalu rugi di awal atau dengan kata lain tidak akan menghasilkan keuntungan jangka pendek, tapi jangka panjang. Tapi (lagi) itu bergantung pada komitmen organisasi itu sendiri untuk menerapkan IS/IT. Karena bisa jadi kan, yang namanya kerugian akan terus berlanjut..


Penggunaan IS/IT di RS

Juli 25, 2007

Organisasi sebesar RSUD itu memang sudah selaiaknya menggunakan IS/IT untuk menunjang proses manajemen rumah sakit. Apalagi RS di Surabaya tidak hanya satu RSUD itu saja. Bahkan di depan RSUD telah berdiri RS Spesialis Permata Husada yang fisik bangunannya sudah sangat mirip dengan hotel ***** (ngga usah udik dech; baca “bintang lima”). Tapi tenang aja, RSUD-ku sudah punya Grha Amerta. Ngga ada pasien ’susah’ di sana. Ngga ada parkiran sepeda motor, kecuali cuman parkiran mobil-mobil ‘wah’.

Tapi pada kenyataannya yang sakit kan ngga cuman orang kaya dengan serangan jantungnya atau kanker otak stadium akhirnya. Orang miskin juga bisa sakit (malah lebih sering dan banyak). Otomatis, kompetitor RSUD tidak hanya rumah sakit-rumah sakit mewah di Surabaya, tapi juga rumah sakit-rumah sakit ‘kecil-kecilan’ seperti RSU Haji dan RSU Islam (dan masih banyak lagi yang lainnya…kecuali RS Menur) . Sedangkan yang namanya RSUD harus melayani juga masyarakat (terutama) ekonomi menengah ke bawah.

Pada saat ini, kebanyakan memang pasien RSUD lebih banyak didominasi orang-orang ’susah’. Terbukti dari banyaknya penggunaan kartu askes dan orang-orang yang rela tidur/tiduran di selasar RS. (Hari gene orang kaya mo tidur/tiduran di selasar? Udah gila kalee..!) Jika bukan karena terbiasa dengan bau obat-obatan dan kelas ekonomi kapal juga berdesak-desakan dengan penumpang lain di dalam angkot, mungkin aku udah muntah-muntah ketika ingin melewati ruang bedah. Banyak orang di sana! Bau keringaaat…!!!

Sebagai RS terbesar di Indonesia Timur (katanya sich..), jumlah pasiennya sudah tidak terhitung puluhan tapi ratusan bahkan mungkin ribuan (untuk keseluruhan RSUD). Kalau tidak dimanajemen dengan baik, ngga kebayang banyaknya antrian orang sakit yang ingin diobati. Kalau semakin banyak orang sakit yang tidak terlayani maka kinerja RS akan menurun dan akan semakin banyak orang yang enggan berobat ke sana. Kalau sudah begitu, ‘blablabla’ berikutnya sudah mulai bisa dipastikan dari sekarang.

Tapi ternyata, pada kenyataannya pembangunan IS/IT di RS tidaklah semudah teoritiknya. Seperti kasus yang aku ketahui misalnya, seorang pasien datang dengan marah-marah karena si sakit yang diantarkannya lamban di layani karena si operator lama menginputkan/mencari data. How so cruel it is…! But it’s really happened. Selain itu, kepiawaian si operator dalam menggunakan aplikasi juga menentukan baik atau tidaknya pelayanan RSUD. Tapi lagi-lagi pada kenyataannya, si operator adalah orang-orang yang pernah hidup nyaman di jaman ‘Jurasic Park’. Impact, mereka malas memasukkan data ke dalam komputer karena keterbatasan pengertian penggunaan komputer itu sendiri. Dan juga karena sudah terbiasa dengan kertas. Padahal pihak ITI sudah melakukan develop terhadap human resource yang seperti ini.

Impact lanjutan yang dirasakan adalah oleh IS/IT itu sendiri. Di satu sisi mereka ‘ditekan’ oleh keadaan pasien yang jelas wajib di nomor satukan. Dan sisi lain, pihak manajemen RSUD juga menginginkan data yang akurat dalam mendukung proses pengambilan keputusan mereka. How can it be?