Private do like public II

Agustus 22, 2007

Belajar dari pengalaman kehabisan tiket di Surabaya, aku pun jadi malas apabila harus mengalami kejadian yang sama tidak mengenakkannya itu. Sebenarnya aku sudah malas naik Kirana III lagi. Masalahnya dia sudah mengembari kapal2 BUMN. But i have no choice. Tiga hari sebelum keberangkatan, aku datang langsung ke kantor pemasaran tiket kapal. Begitu aku tanya… wow, kinerjanya membuatku terpana. Tiket masih belum dijual hingga 2 hari sebelum keberangkatan. Alhasil, tidak ada penyerbuan tiket oleh calo laiknya di Surabaya.

Tapi sayangnya kekagumanku itu tidak bertahan lama ketika aku naik kapal. Dan wow! Orang tergeletak sembarangan dimana2. Ampuuuun… ini geladak kapal atau camp pengungsian sich, pikirku. Dari isu yang ku tahu Kirana III yang bermuatan kisaran 500 orang dimuati oleh 700 orang. Oh my God! Udah kapalnya kecil, sekocinya juga ngga bakalan bisa menyelamatkan seluruh penumpang kalo sampe terjadi apa2, malah dibikin sumpek dengan pengisian penumpang melebihi kapasitas. Nyawa manusia udah ngga lebih penting dari mengejar keuntungan usaha.

Uwek2 penumpang lain benar2 membuatku gerah. Mana aku kehilangan obat tidurku, lagi. Aduh, lengkaplah penderitaanku. Tapi, untungnya ada Nova yang jadi teman sepermainanku selama diperjalanan dan mbak Erni yang jadi tempat berbagi cerita. Kalo ngga, bisa2 aku makan hati berkilo2. Dan ternyata mbak Erni adalah teman sekelas Casper (Islyanti) waktu skul di SPK (Sekolah Perawat Kesehatan; setingkat SMA) dulu. How so lonely i’m after all. Sedangkan Nova; kenapa sich aku hampir selalu manggil dia Lia? Jauh amat.

But whtevr it’s, thanks God, aku sampai kembali di Surabaya dengan selamat. Thanks Nov atas ciuman pertamamu. Thanks mbak Erni. Tapi, aku ngga yakin kalo aku masih mau berlayar dengan kapal yang sama pada libur lebaran ini. Hiks.. hiks.. Kapooook. Tapi kalo terpaksa gitu; mo gimana lagi. Aku sebagai customer DLU benar2 kecewa dengan kemunduran kinerja mereka. Lebih baik aku naik Pelni, yang pasti kapal lebih gede meski pelayanan sama2 payah.


Perjalanan ke masa lalu

Agustus 14, 2007

Setelah puas dengan teman-teman lamaku, it’s time to visit my parent’s friend. Dua harian setelah kedatangank, aku emang udah ketemu ma tante Titin. Tapi ini yang lain lagi. Dan setelah menikmati belaian angin sungai Mentawa, ketemu juga aku dengan keluarga abah Ipan. Ku kira mereka sudah tidak mengenaliku lagi. Maklum, kali terakhir kami bertemu kira-kira 9-10 tahun yang lalu. Huhuhuhu…perpisahan itu terjadi pada saat aku harus pindah ke Palangkaraya untuk skul, while ortuku masih di Sampit.

Maunya sich bikin surprise pengen liat wajah berusaha mengenali dari mereka. Eh.. malah aku yang kaget. Gimana ngga kaget (coba?), lah masa’ aku dikira sempat pacaran sama anak haji Anang, yang juga temen ortuku. Mungkin kalo sama anak tante Titin, si Noni, benar. “Belamak inya Di ai wayah ini. Bisa kada pinandu ikam..”. Astaga… (hahahahha) ada-ada ja acil to.

Sedangkan usaha mereka masih seperti dulu. Hampir ngga ada yang berubah. Cuma ketambahan jualan makanan oleh acil. Tapi kata mereka sich meski pasar terlihat lebih modern secara fisik tapi daya beli masyarakat jadi turu dan malah kebanyakan yang jualan daripada yang beli.

Tapi whatever lah. Yang penting kami senang-senang dulu melupakan sejenak segala beban. Hingga akhirnya aku harus bilang “Makasih. Sampai ketemu lagi…”.


Private do like public

Agustus 2, 2007

Ngga biasa-biasanya yang namanya tiket kapal ludes terjual semua dalam rentang waktu <24 jam sebelum keberangkatan. Ada yang aneh? Ya. Pada kenyataannya saat ini memang sedang musim liburan kuliah. Ngga tahu lagi ya apa sekolah masih libur atau sudah aktif. Tapi memang benar-benar ada yang aneh. Dan keanehan ini memang benar-benar real. Tapi aku mo gimana lagi. Aku sudah tidak tahan berlama-lama di Surabaya, kota panas dan membosankan ini. Aku butuh penyegaran…!!!

Yeah, semua tiket kapal tujuan Sampit yang berangkat besok siang sudah sukses dibajak habis oleh orang-orang yang coba mengambil keuntungan secara tidak bertanggung jawab dengan mengaku sebagai ‘agen’. Benar-benar mengecewakan. Ironisnya hal ini terjadi pada perusahaan non-BUMN. Aduuuu..mo jadi apa negeri ini nanti.

Kapal yang bisa dibilang “kecil”, fasilitas yang hampir sama dengan perusahaan BUMN, harga pun juga hampir sama. Padahal dahulu kinerja perusahaan non-BUMN ini aku pribadi menilai sangat baik. Terutama masalah fasilitas yang lebih baik tapi dengan harga yang lebih murah. Selain itu, tidak ada ‘keagenan’. Kalau pun ada juga, paling-paling aku beli langsung ke kantor pemasaran tiket.

Tapi sekarang? Sama saja. Sama-sama mulai mengecewakan, walaupun kepulanganku tetap sesuai rencana. Kesenanganku melalukan perjalanan laut daripada udara sepertinya akan terusik. Tapi mudah-mudahan hanya sekali ini saja dech…


Tak biasanya

Juli 5, 2007

Kebanyakan mahasiswa informatik adalah tidur dini hari dan bangun siang hari. Keasyikan dengan komputer, that’s why. Spesifiknya mungkin karena emang kudu ngerjain tugas-tugas atau malah refreshing maen game. That’s normally guys…
Tapi sekarang aku sudah mulai memasuki dunia kerja. Impact, aku selalu kesiangan di hari-hari pertamaku sampai saat sekarang ini. HiksHiksHiks… :( Kapan aku bisa dengar kokok ayam sebelum subuh atau nyanyian burung gereja pas matahari terbit? ‘Kemahasiswaan’ku masih nempel nich di mataku.
Masuk halaman RSUD Dr. Soetomo, kali ini lewat ‘hotel’ Grha Amerta. Makin banyak aja orang sakit di pagi hari. Selain itu, wajah-wajah yang ku lihat juga mulai ‘aneh’. Sebut saja begitu tapi aku tidak akan berpanjang lebar membahasna. Ndda baek.
Hari ini emang benar-benar ngga biasanya. Tumben-tumbenan aku mau makan di kantin RSUD. Mana ruang kerjaku dekat kamar mayat lagi. (Gubraaak..!). Lah gimana ngga tumben… lah lagi asyik-asyikna wan niat ngerjain tugas karena udah jelas arahannya, eh kompie yang ku pakai malah tiba-tiba hang. Ngga cuma itu, tapi juga tidak bisa booting dan harddiskna mati. [Kyaaaa..!!] Pekerjaan 3 hari haruskah berakhir sampai di sini?
Untung si tim teknis mampu menghandle masalah ini. Paling ngga datana bisa dicoverylah. Thanks to you guy.. Hari ni aku benar-benar bekerja keras, and i enjoy it.


Apa yang telah ku lihat

Juli 4, 2007

Ini hari ketigaku berasyik-masyuk dengan kesibukan di ruang kerja praktek di bagian Sistem Informasi Manajemen (SIM) RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Selama ini cukup menyenangkan dan aku sangat menikmati pekerjaan baruku yang tidak aku dapatkan di bangku kuliah. Dan aku tahu tidak hanya pengetahuan tentang ilmu komputer yang aku dapatkan di lapangan, tetapi juga ada hal lain yang sangat-sangat bermanfaat bagiku.
Memang tujuanku semula datang ke RSUD bukan hanya sekedar menimba ilmu yang sejenis dengan perkuliahanku, tetapi juga melihat lebih dekat nikmat Tuhan yang paling banyak dilupakan; kesehatan. Selain itu, cewek-cewek bertipe perawat-perawat muda dan juga (disarankan) dokter muda menjadi efek samping dari semua itu tapi bukan tujuan utama atau secondary. That’s just for fun.
Karena yang paling banyak ku lihat adalah orang yang sakit dan menderita daripada orang yang sehat. Yang sering ku lihat memang orang berpenyakit mata. Mungkin karena wilayah kerjaku di sekitar bedah mata atau entahlah. Dan hari ini aku melihat kematian yang sesungguhnya dari seorang pasien yang digerek dari ruang perawatannya menuju kamar jenazah. How so sad they are.


Matahari terbit

Juni 24, 2007

23 tahun yang lalu aku dilahirkan ke dunia yang waktu itu masih penuh kedamaian di sebuah kota kecil yang terus berkembang menggeliat di antara kesibukan penduduknya yang juga terus bertambah seiring kemajuan ekonomi. Selama 23 tahun kehidupanku, tidak sedikit hal-hal yang telah ku lalui. Namun tidak pula banyak hal yang bisa aku ambil pelajaran darinya. Oleh sebab itu, introspeksi diri merupakan hal yang mutlak saya lakukan di penghujung dan awalan tahun ke-23 kehidupanku yang entah akan sampai kapan ini.
Karena kini ku telah berada di dunia yang tak lagi seperti dulu. Hiruk pikuknya membuat kepanikan yang merajalela. Uap-uap panas diangkat dari kebekuannya. Dan debu-debu jalanan berarakan di antara reruntuhan kedamaian masa lalu. There was Surabaya.
Ucap syukurku atas segala kenikmatan yang telah diberikan-Nya kepadaku tanpa melupakan segala perih dan sakit karena dari sanalah aku terus belajar.