Back to campus

Agustus 24, 2007

Liburan boleh dikatakan sudah berlalu. Tapi saat2 seperti inilah yang masih sangat tidak menyenangkanku sejak dulu. Bukan karena aku harus homsik lagi ato apa, tapi ya.. gimana ya? Nggacor sampe bocor pun juga keknya situasinya ngga bakal berubah. Aku tahu persis siapa dia. Dan aku rasa ada yang lebih baik daripada membahas tentangnya. Dosen wali yang benar2 tidak bisa diharapkan. Dosen wali yang telah mencekal kelulusanku karena saking kakunya pada peraturan. Dosen wali yang selalu “begini” saat aku “begitu”, dan menjadi “begitu” saat aku “begini”. Benar2 bukan pasangan yang ideal. Dan ini ternyata tidak hanya dikeluhkan olehku seorang.

Ya sutlah, meski kehebatanku semester lalu tidak mendapatkan penghargaan yang sesuai, no matter. Aku telah mengerti bahwa nilai hanyalah efek samping. Suatu kesalahan apabila aku pengejaranku berhenti hanya sampai di situ, nilai. Gampang sekali untuk mendapatkan nilai A itu. Tinggal minta atau tinggal nyontek, it’s easy. Tapi bagaimana dengan sesuatu yang lebih dari nilai; ilmu pengetahuan? Dan kehebatanku di semester lalu bukan sesuatu yang semalam jadi. Semua aku raih dengan usaha yang keras dan doa serta dukungan dari keluarga dan teman2 dekatku, dan, mh, dendam pribadi. Dan memang sangat gampang untuk mendapatkan nilai penuh itu.

Tapi kedatanganku jauh2 dari tanah kelahiranku bukanlah untuk beberapa digit nilai IPK. Tapi yang jauh lebih dari itu, yaitu ilmu yang bermanfaat dan tanggung jawab atas penuntutannya selama masa kuliah dan penggunaannya nanti di lapangan. For today, kehebatanku di semester lalu harus dipertanggungjawabkan kembali di semester ini.

So, misi semester ini : ADSI, OLAP, SCM, TIS, Audit, Penil dan TOEFL. And the goal is “Kalahkan dia lagi dan untuk terakhir kalinya”


My inspirations

Agustus 10, 2007

Di sepanjang kehidupan manusia dan di sependek usiaku hingga saat ini aku menemukan tiga hal penting yang sangat berguna khususnya dalam berinteraksi (spec: berhubungan) dengan orang lain atau pasangan; biar hubungan itu sendiri awet. Tapi hubungan yang dimaksud tidak termasuk hubungan intim loh yaa… :)

Yang pertama tu saling percaya. Kalo ngga “percaya”, bawaannya jadi curiga (victor) mulu. Baik benar-benar terjadi maupun (apalagi) ngga pernah terjadi; yang rugi toh diri sendiri. Nasi goreng masih terlalu enak daripada racun tikus. Lagipula siapa sech yang akan merasa nyaman dicurigai? Dan tidak ada ruginya mempercayai orang lain. Sekalipun mungkin kepercayaan tersebut dirusak oleh orang lain & lalu kita merasa dibodohi. Padahal sebenarnya bukan kita (yang mempercayai orang lain itu) yang bodoh. Tapi yang benar-benar bodoh adalah orang yang merusak kepercayaan orang lain. Dan memang ngga ada salahnya percaya sepenuhnya terhadap orang lain, namun sebaiknya tanpa mengabaikan logika dan bersikap kritis.

Lalu yang kedua bersikap ikhlas. Artinya (singkat cerita), ngga usah ngarepin orang lain melakukan hal yang sama atau lainnya sebagai imbalan atau balas jasa, baik sedikit apalagi banyak. Sama halnya seperti “percaya”, ngga ada ruginya bersikap ikhlas. Karena “patah tumbuh; hilang berganti”. Tapi kalo ngga ikhlas.. yang ada malah sakit hati, dongkol, marah, de-el-el.

Dan yang terakhir, selalu bersyukur & berterima kasih atas segala pemberian dari siapapun, yang baik maupun yang buruk. Karena (kek gini), dunia ini terlalu luas & sayang banget untuk dinikmati sebagiannya saja. Salah-salah karena kehidupan yang datar ato kek gitu-gitu aja malah ngebosenin. Berterima kasih terhadap kebaikan orang lain itu hal yang biasa. Tapi berterima kasih atas ketakbaikan orang lain & tidak mendendam; itu baru luar biasa. Boleh jadi kita dijahati orang lain; mungkin itu disebabkan karena kita pernah menjahati orang lain sebelumnya. Ato jika ngga pernah menjahati orang lain maka pasti tujuan-Nya agar kita tidak menjahati orang lain.

Tapi ini keknya ngga berlaku bagi Inu (‘musuh bebuyutan’-ku). Klo dia ampe jelek-jelekin aku, wo… tak jelek-jelekin balik dia. :p- Hehehehehe…. Tapi baik yang pertama maupun yang kedua, susah banget untuk dipraktekkan. Sedangkan yang ketiga (pada kenyataanya) lebih banyak dilupakan.

Lotre daeh, that’s all! Thank’s to ading Sandli yang udah jadi inspirator dari tulisan ini.


Di kota kelahiranku

Agustus 7, 2007

Malam minggu kemaren aku tiba kembali di kota kelahiranku. Pada waktu aku berlabuh, matahari sudah bersembunyi di balik pepohonan. Dan masih bukan merupakan hal yang aneh apabila bumi habaring hurung Sampit seperti gonjang-ganjing ketika aku mulai menapakkan kakiku di atasnya.

Baru sekitar 12 jam kemudian matahari ber-’cilukbaaa..’ denganku. Dan aku pun ketemu juga dengan Mandra dan Ucok. Di perjalanan datang, aku melihat berbagai keanehan. Dua traffic light di dua perempatan ramai; mati. Banyak sekali warung-warung makan remang-remang di pinggiran jalan, pas banget buat pacaran karena hanya diterangi lilin-lilin kecil; kalo sampe ada yang make petromax udah ‘mewah’ tuch..

Di perjalanan pulang aku baru ngerti, “oh.. mati lampu”. Tadi malam, giliran komplek rumahku yang mati lampu. Oh.. tentu tidak! Pemadaman bergilir..! Pikirku kemudian; kapan Sampit bisa maju klo kek gini terus? PLN sebagai satu-satunya perusahaan listrik negara koq bisa-bisanya merugi? Benar-benar aneh dah..

Usut punya usut ternyata.. (informasi ini aku dapat dari salah seorang pejabat pemerintahan daerah) kinerja BUMN khususnya PLN memang seperti itu “jeleknya” menurut sudut pandang kebanyakan; termasuk aku. Berbeda dengan perusahaan swasta, apabila ada sisa belanja maka itu dimasukkan sebagai keuntungan. Tapi tidak dengan PLN ini; apabila ada sisa belanja maka itu bisa dikatakan kerugian. Jadi kalo misal (di BUMN) atasan ngasih 100 juta maka bawahan harus menghabiskannya bahkan kalo bisa sampai minus belanjanya, alias merugi. Kalo ada sisa (misal 10 juta) dan dikembalikan ke atasan, maka bawahan tersebut bisa digolongkan orang bodoh.

Aneh, ‘kan? Tapi yaaa emang kayak gitu itu kenyataannya. Teori ekonomi tidakberlaku di instansi pemerintahan. Tujuannya agar anggaran belanja daerah bisa naik di tahun berikutnya. Karena kata beliau pemerintah tidak mau tahu harga barang/jasa naik atau mau naik. Ngga tahu juga dah dari mana asalnya uang untuk menaikkan ABD. Dan ngga tahu juga buat apa aja sisanya nanti.

Hhhhh….


Donorkan darahmu

Juli 9, 2007

Masuk IRD (Instalasi Rawat Darurat) hari ini. Wuih..! Itu ruang tunggu udah kayak pasar atom aja dach. Ramenya minta ampun. ‘Atom’ di sini bukan atom energi loh yach… Tapi emang nama salah satu pasar di Surabaya. Desain ruang gedungnya yang tinggi dan luas, pas banget kalo ada pedagangnya di dalam.

Dan sapa yang bakal nyangka kalau aku akan berada di dalam ruangan di mana dokter muda (dan tua kali yach..) ’senang’ bermain-main dengan mayat. Aaaargh…! Baru aku tahu pas udah keluar ruangan. Sebelumnya aku cuman baca, ruang penelitian. Begitu sampai di dalam, ada meja dan lain-lain yang emang mengacu ke sana. Kyaaaa..!!!

Kurang kerjaan banget yach aku masuk-masuk ruangan kayak begituan!? Kata sapi? AKu loh sedang donor darah. Dan ngga nyangka banget, aku ketemu ma perawat yang sama seperti pada saat aku aktif donor darah di institut (usually presented by UK Pramuka). Mungkin dia udah lupa ma aku coz banyaknya pendonor di ITS. Tapi aku ngga lupa ma dia karena sedikit sekali perawat yang datang. Tapi dia udah menduga kayaknya kalo aku dari ITS.

Ada fenomena menarik di RS (rumah sakit, bukan rumah rumah sehat) manapun yang aku temui tentang darah. As you know, pada saat melakukan donor, kita tidak akan selembar uang pun kita dapatkan. Tapi pada saat ada orang butuh darah, dia harus membayar lebih dari 100 ribu rupiah per kantong. Huhuhuhuhuhuhu mahalna..

Tapi ternyata guys, ngga ada ruginya koq melakukan donor darah secara aktif setiap 2.5-3 bulan sekali. Selain alasan kesehatan, yang paling penting :

  1. Apabila pendoroh membutuhkan darah suatu saat nanti, maka dia akan dikenai potongan harga bahkan gratis setelah mencapai jumlah donor tertentu, bergantung pada kebijakan masing-masing PMI di suatu daerah.
  2. Ketentuan di nomor 1 tidak hanya berlaku bagi si pendonor, tapi juga bagi keluarga dekat pendonor (ortu, sodara kandung en anak).

Setelah jumlah tertentu pada daerah tertentu? Bagaimana jika kemudian pindah domisili? Itung-itungannya kan berarti re-count di daerah yang baru?

It’s easy. Not exactly like that. Kamu bisa memberitahukan pada PMI di daerah yang lama bahwa kamu akan pindah ke daerah baru. Nanti mereka (PMI -choy) akan memproses data-data donormu dan jika kamu melakukan donor lagi di daerah yang baru, maka countmu yang baru akan ditambahkan pada count yang lama.

Misal (nich..) di kota lama kamu udah donor sebanyak 10x lalu donor di daerah baru, maka jumlahnya jadi 10+jumlah donor di daerah baru. Gitttou… Tapi ini cuman berlaku kalau kamu melaporkan kepindahanmu itu. Kalo ngga, ya recount. :p-

Jadi donorkan darahmu secara aktif. Lumayan buat tabungan darah di masa depan. Coz ngga ada yang jamin kamu bakal bebas dari pendarahan. Rethink it so well.