Xixexi

Agustus 17, 2007

Masih kebaca dengan baik ‘kan judul tulisan ini? Tapi kalo masih lom bisa, maka cobalah untuk lebih peka. Ngga sulit koq…

Kali ini bercerita tentang tetangga baruku. Cewek, daon muda, rambut hitam lurus (cucok kali buat bintang iklan shampoo), wajah cantik, kulit putih bersih, kelopak mata yang alus banget waktu dibuat, bibir yang merah meski tanpa lipstik dan suara yang benar2 bisa menggetarkan darah muda. Pikirku, kalo aku punya istri kek dia, bisa ngga keluar rumah sama sekali aku setiap hari dan ngga tahu pe berapa lama. Gimana ngga (coba?); tubuhnya seksi abis. Moncongnya corong abis sedangkan joknya ngga bikin cape duduk lama. Ampuuun…. Apalagi kalo tiap datang ke rumah cuman make baju tidur yang tipis: dari situ aku bisa identifikasi daleman yak apa yang sedang dia pake. Maksimal, make kaos oblong yang mengikat pinggangnya dengan sempurna. So, bikin liur tertelan.

Dua hari yang lalu aku diajak ke rumahnya. Dengan segera aku datang (hadooooh, ampuuun… gila!) Aku masuk kamar dia. Hhhhh…. begitu keluar, aku udah lumayan berkeringat. Aku ngapain ya kira2 berduaan ma dia dalam kamar? Meski aku melihat dia dengan ‘kacamata cowok’, itu bukan berarti aku bebas bereaksi. Imanku masih kuat ternyata; meski digoncang2. Aku cuman ngbantu dia mendesain ulang interior kamarnya.

Dan malam ini (katanya sich terakhir) dia minta aku beliin bakso. Wueleeeh.. siapa yang bikin hamil siapa yang tanggung jawab, coba? Tapi yang bikin aku geram bukan itu. “Geram”-nya sich geram2 mau -xixixixixi. Kalo misal dibayar lebih sich aku mungkin mau2 aja. Tapi kalo duit? Aduh ngga dech. Dan ini bukan kali pertama. Dan aku mulai jenuh juga.

Pikirku, ngga semua dan emang ngga semua bisa dibeli atau dibayar dengan uang. Apalagi aku emang ngga mengharapkan itu. Otakku emang kotor waktu liat dia, tapi aku masih punya hati (jey…). Aku hanya bantu dia sebatas apa yang bisa aku lakukan dan aku ngga pengen dinilai berlebihan. Itu aja. Membayar kebaikan orang lain (yang diberikan dengan ikhlas) dengan uan, sama aja dengan tidak berterima kasih dan merendahkan kebaikan itu sendiri. Jadi jangan coba2 ‘memainkan’ uang ya…! Kalo emang mo berterima kasih, ya cukup makasih aja dan/atau (kek UU aja) balas bantu dengan hal yang lain. Asal jangan dengan uang! Aku jadi rada2 sensi nich kalo udah berurusan dengan uang. Grrrrr…!!!!


Tanpa ‘V’ dan hanya ‘P’

Agustus 15, 2007

Matahari belum mencapai titik didihnya ketika suasana di kos-kosan om-ku mulai membangunkan unta-unta arab. Andaikata mereka masing-masing memiliki (minimal) AK-45, mungkin sudah banyak anggota PMI yang dengan senang hati mengambil hasil ‘donor darah’. Tapi, ah… berlebihan… (Diyeeeeeeng….!!!) Ada yang marah-marah, ngdumel, mengeluh, ngjek (mungkin). Ada juga yang merasa terusik sampai mengesah sambil menggosok mata setelah bangun tidur, “Air habis….”.

Huaaaa…. bikin tape baja. Masa’ gara-gara aer harus saling bunuh, padahal aer, ‘kan, membawa kehidupan; bukan kematian?

It was to simple problem kalau saja mereka lebih bijaksana menggunakan logika daripada maen perasaan. Ngga cuman untuk masalah ini aja. Tapi semua yang ada di dunia ini berdasarkan logika dan ngga cuman perasaan. “Perasaan” hanyalah (kalau tidak mau disebut “efek samping”, ya, bolehlah…) sentuhan yang intensitasnya jauh lebih sedikit dari penggunaan logika. Bahkan tanpa menggunakan perasaan pun, seorang manusia masih bisa terlahir ke dunia. (Tapi hasilnya, ya kek gitu itu). Pada kasus perkosaan misalnya, ngga ada perasaan apa-apa di sana (kecuali nikmat kaleee… hahahaha) kecuali nafsu. Sebaliknya, dengan menggunakan perasaan yang melebihi logika akan membuat orang meregang nyawa tanpa tujuan yang jelas sebelum malaikat maut sempat melaksanakan tugasnya.

Bahkan “cinta” yang murni perasaan pun meminta pembuktian (logika) dari yang bersangkutan. Emangnya kamu mau kalo pasangan kamu cuman bisa bilang cinta tanpa ngasih perhatian ato apa-apa, malah ninggalin kamu? (Cinta? Makan tu cinta!). Lebih dalam lagi dari itu, keimanan kepada Sang Khalik juga meminta pembuktian dan ngga cukup cuma perasaan saja. Makanya banyak manusia yang diuji keimanannya, padahal Dia Yang Maha Mengetahui loh….

Apalagi kita hanya manusia biasa yang ngga tahu apa-apa.. Kalo maennya cuman perasaan aja… bisa ancur dunia ini. Sebaliknya, tanpa perasaan pun segala sesuatu di dunia ini masih bisa berjalan dengan baik (sebagian; tinggal mau atau ngga aja untuk ngjalaninya)  selama itu tidak berhubungan langsung dengan-Nya (misal keimanan). Perhatikan, betapa tidak sedikit ilmuwan yang ‘liburan’-nya sudah tidak lagi ke luar negeri, malah ke luar angkasa (bahkan ingin ke planet atau galaksi lain) tapi masih tidak mau mengakui keberadaan Sang Maha Pencipta. Yang pasti itu disebabkan karena belum adanya hidayah (perasaan) di hati mereka.

Yeee… kirain da apa? Ternyata cuman gitu! Tapi kenapa judulnya “Tanpa ‘V’ dan hanya ‘P’”?

Nah tu dia. Karena yang paling banyak menggunakan perasaan adalah manusia-manusia bertipe ‘V’ sedangkan logika lebih banyak digunakan oleh manusia-manusia bertipe ‘P’. Kaduanya saling melengkapi dan ngga bisa hanya salah satunya saja atau perasaan sampai mengalahkan/melebihi logika. Kalo sampe melebihi… ya, akibatnya kek seperti pagi tadi itu, misalnya.

Tapi kebanyakan kita lebih memilih “Kalo masih ada otot, ngapain make otak; toh otot juga dikendalikan oleh otak??”


Waktu yang ku buang

Juli 5, 2007

Hari ini SPMB hari kedua yach?
Wah jadi ingat waktu 5 dan 4 tahun yang lalu. Tepatnya ketika aku masih mengikuti SPMB pertama dan gagal., -coz masih ngikutin keinginan ortu-. Baru di SPMB kedua, tanpa mengabaikan keinginan ortu, ku jalani apa yang telah aku tentukan menjadi pathku.
Hari pertama udah berlarian di antara gedung bertingkat 4, yang kemudian jadi tempat kuliah TPBku. Malah masih sempat salah ruangan. Untung masih di gedung yang sama. Sedangkan hari kedua lebih parah lagi. Telat. Penyebabnya karena tidak ada taksi yang mau aku tumpangin. Usut punya usut, tatana setelah ada taksi yang mau aku stop, “..sedang jam setoran, mas”. Gubraaaak…!!! Langkahku semakin cepat, begitu pun dengan denyut nadi di kepalaku. Tapi anehnya koq otakku jadi ‘encer’ ya ngerjain soal-soal matematika? Ini masih jadi misteri sampai sekarang.
Siapa sangka, sebulan kemudian, usaha dan doaku tidak sia-sia. Aku berhasil.
Tapi sekarang aku telah membuang keberhasilanku itu dengan melenggangkan kebanggaan yang berlebihan dan ‘darah muda’. That’s so terible!
Tapi ya sutlah. Masa lalu telah berlalu. Jangan sampe ya “masih akan berlalu”, tu mah masa depan namanya. Yang terpenting adalah ku sadari itu adalah suatu kesalahan dan takkan ku ulangi lagi. Dan yang tak kalah penting juga, it’s time to beat the time. [Mukulin jam maksudna.. /Glodak!] Hehehe.. bukan itu maksudku. Maksudku adalah ini waktu yang tepat untuk mulai berkarya.
Sedangkan terperangkap dalam masa lalu adalah suatu kekalahan telak dalam hidup.