ERP di koperasi

Agustus 1, 2007

Sepertinya menarik juga meneliti penerapan ERP di koperasi (spec; koperasi mahasiswa ITS). Itung2 ‘refreshing’ dari kegiatan RSUD lah. Sampai di kopma, eh ketemu Nugie. Sama seperti Dedi dulu, “Kemana aja kamu koq ngga pernah keliatan?”. Aku sudah menepi dari dunia ‘persilatan’ and i found my real path.

Misi kali ini adalah mendeskripsikan aturan bisnis yang diterakan di kopma. Masih berupa gambaran umum sich tentang sistem secara keseluruhan dan masih belum menyentuh detilnya.

Masalah distribusi barang masih dengan sistem konsinyasi (titip) dan beli dari agen atau distributor dengan ketentuan tertentu seperti stok dan harga barang (misal harga barang mau naik). Unit bisnis yang ada juga masih belum berubah; swalayan, fast food, wartel dan asrama. Tidak hanya itu, bahkan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap jalannya unit bisnis tersebut masih sama. Nama orangnya saja yang berganti. Begitu juga dengan sistem administrasi seperti iuran wajib dan iuran sukarela anggota beserta SHU-nya.

Tidak banyak yang berbeda memang antara sistem distribusi barang antara kopma yang dulu -ketika aku masih aktif sebagai anggota; sekarang udah ngga lagi- dengan sistem yang baru. Masih manual -itu pasti- dan bahkan boleh dikatakan hampir tidak ada perubahan, kecuali satu.

Jas almameter yang dulunya ditenderkan, di kepengurusan yang baru ini sudah menggalang kerja sama. Ngga tahu ya hasilnya (produk jadi; almameter) nanti kayak gimana. Karena beberapa tahun yang lalu muncul keluhan seperti kainnya agak panas, dsb. Tapi dari tahun ke tahun ada peningkatan kualitas yang juga dibarengi oleh kenaikan harga.

Distribusi barang, unit bisnis yang ada dan sistem administrasi (baca: bagi hasil) di kopma, mungkin ngga ya ERP diterapkan di sana? Yang aku tahu -nie dari dosen ERP langsung loh ya yang sempat ngajar aku-, dimanapun ERP bisa diterapkan. Hanya saja semua bergantung pada aplikasinya apakah besar atau kecil dan sesuai atau tidak dengan proses dan aturan bisnis yang telah ada. Alasan basi banget yaa.. .

Sementara itu untuk penerapan aplikasinya sendiri, masih butuh perencanaan IS/IT lagi yang mana hal itu sudah di luar pekerjaanku pada penelitian kali ini. Tapi memang yang namanya investasi IS/IT selalu rugi di awal atau dengan kata lain tidak akan menghasilkan keuntungan jangka pendek, tapi jangka panjang. Tapi (lagi) itu bergantung pada komitmen organisasi itu sendiri untuk menerapkan IS/IT. Karena bisa jadi kan, yang namanya kerugian akan terus berlanjut..


Penggunaan IS/IT di RS

Juli 25, 2007

Organisasi sebesar RSUD itu memang sudah selaiaknya menggunakan IS/IT untuk menunjang proses manajemen rumah sakit. Apalagi RS di Surabaya tidak hanya satu RSUD itu saja. Bahkan di depan RSUD telah berdiri RS Spesialis Permata Husada yang fisik bangunannya sudah sangat mirip dengan hotel ***** (ngga usah udik dech; baca “bintang lima”). Tapi tenang aja, RSUD-ku sudah punya Grha Amerta. Ngga ada pasien ’susah’ di sana. Ngga ada parkiran sepeda motor, kecuali cuman parkiran mobil-mobil ‘wah’.

Tapi pada kenyataannya yang sakit kan ngga cuman orang kaya dengan serangan jantungnya atau kanker otak stadium akhirnya. Orang miskin juga bisa sakit (malah lebih sering dan banyak). Otomatis, kompetitor RSUD tidak hanya rumah sakit-rumah sakit mewah di Surabaya, tapi juga rumah sakit-rumah sakit ‘kecil-kecilan’ seperti RSU Haji dan RSU Islam (dan masih banyak lagi yang lainnya…kecuali RS Menur) . Sedangkan yang namanya RSUD harus melayani juga masyarakat (terutama) ekonomi menengah ke bawah.

Pada saat ini, kebanyakan memang pasien RSUD lebih banyak didominasi orang-orang ’susah’. Terbukti dari banyaknya penggunaan kartu askes dan orang-orang yang rela tidur/tiduran di selasar RS. (Hari gene orang kaya mo tidur/tiduran di selasar? Udah gila kalee..!) Jika bukan karena terbiasa dengan bau obat-obatan dan kelas ekonomi kapal juga berdesak-desakan dengan penumpang lain di dalam angkot, mungkin aku udah muntah-muntah ketika ingin melewati ruang bedah. Banyak orang di sana! Bau keringaaat…!!!

Sebagai RS terbesar di Indonesia Timur (katanya sich..), jumlah pasiennya sudah tidak terhitung puluhan tapi ratusan bahkan mungkin ribuan (untuk keseluruhan RSUD). Kalau tidak dimanajemen dengan baik, ngga kebayang banyaknya antrian orang sakit yang ingin diobati. Kalau semakin banyak orang sakit yang tidak terlayani maka kinerja RS akan menurun dan akan semakin banyak orang yang enggan berobat ke sana. Kalau sudah begitu, ‘blablabla’ berikutnya sudah mulai bisa dipastikan dari sekarang.

Tapi ternyata, pada kenyataannya pembangunan IS/IT di RS tidaklah semudah teoritiknya. Seperti kasus yang aku ketahui misalnya, seorang pasien datang dengan marah-marah karena si sakit yang diantarkannya lamban di layani karena si operator lama menginputkan/mencari data. How so cruel it is…! But it’s really happened. Selain itu, kepiawaian si operator dalam menggunakan aplikasi juga menentukan baik atau tidaknya pelayanan RSUD. Tapi lagi-lagi pada kenyataannya, si operator adalah orang-orang yang pernah hidup nyaman di jaman ‘Jurasic Park’. Impact, mereka malas memasukkan data ke dalam komputer karena keterbatasan pengertian penggunaan komputer itu sendiri. Dan juga karena sudah terbiasa dengan kertas. Padahal pihak ITI sudah melakukan develop terhadap human resource yang seperti ini.

Impact lanjutan yang dirasakan adalah oleh IS/IT itu sendiri. Di satu sisi mereka ‘ditekan’ oleh keadaan pasien yang jelas wajib di nomor satukan. Dan sisi lain, pihak manajemen RSUD juga menginginkan data yang akurat dalam mendukung proses pengambilan keputusan mereka. How can it be?


Donorkan darahmu

Juli 9, 2007

Masuk IRD (Instalasi Rawat Darurat) hari ini. Wuih..! Itu ruang tunggu udah kayak pasar atom aja dach. Ramenya minta ampun. ‘Atom’ di sini bukan atom energi loh yach… Tapi emang nama salah satu pasar di Surabaya. Desain ruang gedungnya yang tinggi dan luas, pas banget kalo ada pedagangnya di dalam.

Dan sapa yang bakal nyangka kalau aku akan berada di dalam ruangan di mana dokter muda (dan tua kali yach..) ’senang’ bermain-main dengan mayat. Aaaargh…! Baru aku tahu pas udah keluar ruangan. Sebelumnya aku cuman baca, ruang penelitian. Begitu sampai di dalam, ada meja dan lain-lain yang emang mengacu ke sana. Kyaaaa..!!!

Kurang kerjaan banget yach aku masuk-masuk ruangan kayak begituan!? Kata sapi? AKu loh sedang donor darah. Dan ngga nyangka banget, aku ketemu ma perawat yang sama seperti pada saat aku aktif donor darah di institut (usually presented by UK Pramuka). Mungkin dia udah lupa ma aku coz banyaknya pendonor di ITS. Tapi aku ngga lupa ma dia karena sedikit sekali perawat yang datang. Tapi dia udah menduga kayaknya kalo aku dari ITS.

Ada fenomena menarik di RS (rumah sakit, bukan rumah rumah sehat) manapun yang aku temui tentang darah. As you know, pada saat melakukan donor, kita tidak akan selembar uang pun kita dapatkan. Tapi pada saat ada orang butuh darah, dia harus membayar lebih dari 100 ribu rupiah per kantong. Huhuhuhuhuhuhu mahalna..

Tapi ternyata guys, ngga ada ruginya koq melakukan donor darah secara aktif setiap 2.5-3 bulan sekali. Selain alasan kesehatan, yang paling penting :

  1. Apabila pendoroh membutuhkan darah suatu saat nanti, maka dia akan dikenai potongan harga bahkan gratis setelah mencapai jumlah donor tertentu, bergantung pada kebijakan masing-masing PMI di suatu daerah.
  2. Ketentuan di nomor 1 tidak hanya berlaku bagi si pendonor, tapi juga bagi keluarga dekat pendonor (ortu, sodara kandung en anak).

Setelah jumlah tertentu pada daerah tertentu? Bagaimana jika kemudian pindah domisili? Itung-itungannya kan berarti re-count di daerah yang baru?

It’s easy. Not exactly like that. Kamu bisa memberitahukan pada PMI di daerah yang lama bahwa kamu akan pindah ke daerah baru. Nanti mereka (PMI -choy) akan memproses data-data donormu dan jika kamu melakukan donor lagi di daerah yang baru, maka countmu yang baru akan ditambahkan pada count yang lama.

Misal (nich..) di kota lama kamu udah donor sebanyak 10x lalu donor di daerah baru, maka jumlahnya jadi 10+jumlah donor di daerah baru. Gitttou… Tapi ini cuman berlaku kalau kamu melaporkan kepindahanmu itu. Kalo ngga, ya recount. :p-

Jadi donorkan darahmu secara aktif. Lumayan buat tabungan darah di masa depan. Coz ngga ada yang jamin kamu bakal bebas dari pendarahan. Rethink it so well.


Useless then better

Juli 6, 2007

Baca dengan cara terbalik dong…
Kalau kamu bisa jadi orang luar biasa untuk apa jadi orang biasa!?
Kalau kemarin adalah hari yang tidak biasanya bagiku maka hari ini adalah hari yang sudah luar biasa bagiku. Hari ini emang udanh ngga ada masalah dengan jaringan yang mungkin down, tapi OSnya itu loh..! Aaaargh…! Pas lagi serius2nya bin niat2nya bin semengat2nya buat kerja, eh, selalu saja ada godaan. Ngga ini, ya itulah. Ngga itu, ya inilah. Hhhhh…
Whtevrlah!
Hari ini ku lihat seorang wanita yang terbujur kaku di atas kasurnya di depan ruang IRD. Kasihan sekali dia. Wajahnya sudah mengurus, begitupun tubuhnya yang tertutup selimut. How so pity she is [ :( ] Dari bau tubuhnya udah jelas kalau dia si Pesakit. Entah karena apa ya… tapi bedanya masih jelas antara orang yang sehat dan ngga mandi berhari2 dengan orang sakit dan ngga mandi juga berhari :p- (karena orang sakit ngga beraktifitas kali yaa..)
Tapi yang lebih kasihan lagi adalah seorang nenek yang (sedang kurang sehat) harus bersendirian memeriksakan kesehatannya. Aduh… emamg pada kemana sich anak2nya atau cucu2nya? Masa’ udah ngga ada yang peduli? Aku jadi sediiiih banget tadi. :_( Jadi inget nenekku yang udah meninggal dan aku ngga ada di sampingna waktu beliau menginginkanku ada.
Guys, orang tua kita adalah orang yang paling khawatir terhadap kesehatan/kehidupan kita. Waktu kita masih kecil dulu (atau saat nakal2nya kita saat masih remaja — pusing dikit aja udah ngga bisa jalan dach) ortu kita selalu menyempatkan diri pulang dari pekerjaannya hanya untuk mengantarkan kita ke berperiksa ke dokter. Dan misal kalaupun tidak sempat, segera setelah pekerjaan selesai, ortu akan mengantarkan kita ke dokter.
Tapi dari kasus yang ku alami hari ini, saat kita udah gede, udah bisa kerja, udah ngga sakit2 lagi sekaligus pula udah ngga sempat lagi nganterin ortu yang udah mulai sakit2an. Jangankan ke rumah sakit… manggil dokter aja belum tentu kali yaa… Jahat banget dan ngga tahu balas budi banget kita ini kalau sampai kayak gitu.
Benar2 kasihan nenek itu. Mana rumah beliau jauh pula. Kira2 menghabiskan waktu perjalanan selama 1,5 jam dari rumah sakit. Tapi semoga beliau cepat sembuh, amin.


Tak biasanya

Juli 5, 2007

Kebanyakan mahasiswa informatik adalah tidur dini hari dan bangun siang hari. Keasyikan dengan komputer, that’s why. Spesifiknya mungkin karena emang kudu ngerjain tugas-tugas atau malah refreshing maen game. That’s normally guys…
Tapi sekarang aku sudah mulai memasuki dunia kerja. Impact, aku selalu kesiangan di hari-hari pertamaku sampai saat sekarang ini. HiksHiksHiks… :( Kapan aku bisa dengar kokok ayam sebelum subuh atau nyanyian burung gereja pas matahari terbit? ‘Kemahasiswaan’ku masih nempel nich di mataku.
Masuk halaman RSUD Dr. Soetomo, kali ini lewat ‘hotel’ Grha Amerta. Makin banyak aja orang sakit di pagi hari. Selain itu, wajah-wajah yang ku lihat juga mulai ‘aneh’. Sebut saja begitu tapi aku tidak akan berpanjang lebar membahasna. Ndda baek.
Hari ini emang benar-benar ngga biasanya. Tumben-tumbenan aku mau makan di kantin RSUD. Mana ruang kerjaku dekat kamar mayat lagi. (Gubraaak..!). Lah gimana ngga tumben… lah lagi asyik-asyikna wan niat ngerjain tugas karena udah jelas arahannya, eh kompie yang ku pakai malah tiba-tiba hang. Ngga cuma itu, tapi juga tidak bisa booting dan harddiskna mati. [Kyaaaa..!!] Pekerjaan 3 hari haruskah berakhir sampai di sini?
Untung si tim teknis mampu menghandle masalah ini. Paling ngga datana bisa dicoverylah. Thanks to you guy.. Hari ni aku benar-benar bekerja keras, and i enjoy it.


Waktu yang ku buang

Juli 5, 2007

Hari ini SPMB hari kedua yach?
Wah jadi ingat waktu 5 dan 4 tahun yang lalu. Tepatnya ketika aku masih mengikuti SPMB pertama dan gagal., -coz masih ngikutin keinginan ortu-. Baru di SPMB kedua, tanpa mengabaikan keinginan ortu, ku jalani apa yang telah aku tentukan menjadi pathku.
Hari pertama udah berlarian di antara gedung bertingkat 4, yang kemudian jadi tempat kuliah TPBku. Malah masih sempat salah ruangan. Untung masih di gedung yang sama. Sedangkan hari kedua lebih parah lagi. Telat. Penyebabnya karena tidak ada taksi yang mau aku tumpangin. Usut punya usut, tatana setelah ada taksi yang mau aku stop, “..sedang jam setoran, mas”. Gubraaaak…!!! Langkahku semakin cepat, begitu pun dengan denyut nadi di kepalaku. Tapi anehnya koq otakku jadi ‘encer’ ya ngerjain soal-soal matematika? Ini masih jadi misteri sampai sekarang.
Siapa sangka, sebulan kemudian, usaha dan doaku tidak sia-sia. Aku berhasil.
Tapi sekarang aku telah membuang keberhasilanku itu dengan melenggangkan kebanggaan yang berlebihan dan ‘darah muda’. That’s so terible!
Tapi ya sutlah. Masa lalu telah berlalu. Jangan sampe ya “masih akan berlalu”, tu mah masa depan namanya. Yang terpenting adalah ku sadari itu adalah suatu kesalahan dan takkan ku ulangi lagi. Dan yang tak kalah penting juga, it’s time to beat the time. [Mukulin jam maksudna.. /Glodak!] Hehehe.. bukan itu maksudku. Maksudku adalah ini waktu yang tepat untuk mulai berkarya.
Sedangkan terperangkap dalam masa lalu adalah suatu kekalahan telak dalam hidup.


Apa yang telah ku lihat

Juli 4, 2007

Ini hari ketigaku berasyik-masyuk dengan kesibukan di ruang kerja praktek di bagian Sistem Informasi Manajemen (SIM) RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Selama ini cukup menyenangkan dan aku sangat menikmati pekerjaan baruku yang tidak aku dapatkan di bangku kuliah. Dan aku tahu tidak hanya pengetahuan tentang ilmu komputer yang aku dapatkan di lapangan, tetapi juga ada hal lain yang sangat-sangat bermanfaat bagiku.
Memang tujuanku semula datang ke RSUD bukan hanya sekedar menimba ilmu yang sejenis dengan perkuliahanku, tetapi juga melihat lebih dekat nikmat Tuhan yang paling banyak dilupakan; kesehatan. Selain itu, cewek-cewek bertipe perawat-perawat muda dan juga (disarankan) dokter muda menjadi efek samping dari semua itu tapi bukan tujuan utama atau secondary. That’s just for fun.
Karena yang paling banyak ku lihat adalah orang yang sakit dan menderita daripada orang yang sehat. Yang sering ku lihat memang orang berpenyakit mata. Mungkin karena wilayah kerjaku di sekitar bedah mata atau entahlah. Dan hari ini aku melihat kematian yang sesungguhnya dari seorang pasien yang digerek dari ruang perawatannya menuju kamar jenazah. How so sad they are.


Matahari terbit

Juni 24, 2007

23 tahun yang lalu aku dilahirkan ke dunia yang waktu itu masih penuh kedamaian di sebuah kota kecil yang terus berkembang menggeliat di antara kesibukan penduduknya yang juga terus bertambah seiring kemajuan ekonomi. Selama 23 tahun kehidupanku, tidak sedikit hal-hal yang telah ku lalui. Namun tidak pula banyak hal yang bisa aku ambil pelajaran darinya. Oleh sebab itu, introspeksi diri merupakan hal yang mutlak saya lakukan di penghujung dan awalan tahun ke-23 kehidupanku yang entah akan sampai kapan ini.
Karena kini ku telah berada di dunia yang tak lagi seperti dulu. Hiruk pikuknya membuat kepanikan yang merajalela. Uap-uap panas diangkat dari kebekuannya. Dan debu-debu jalanan berarakan di antara reruntuhan kedamaian masa lalu. There was Surabaya.
Ucap syukurku atas segala kenikmatan yang telah diberikan-Nya kepadaku tanpa melupakan segala perih dan sakit karena dari sanalah aku terus belajar.